Penelitian yang dilakukan di negara-negara Barat menunjukkan insidensi depresi yang bervariasi antara 33 – 350 per 100.000 penduduk. Sedangkan di Asia insidensi depresi menunjukkan angka 20 – 690 per 100.000 penduduk. Di Amerika Serikat 6 – 8 % pasien yang datang berobat ke fasilitas kesehatan menderita depresi. Saat ini depresi memang masih merupakan suatu fenomena gunung es, di mana hanya 12 –15 orang per 1000 pasien yang mengeluh dengan keluhan depresi (Setyonegoro, 1981 cit., Hawari, 2002).
Rangkuman dari referensi utama psikiatri Kaplan dan Sadock’s Comprehensivee Textbook of Psychiatry menyebutkan bahwa prevalensi seumur hidup dan sepanjang tahun dari depresi unipolar adalah 20-25% dan 10-15%, secara berturut-turut (Rihmer dan Angst, 2005). Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1974) menyebutkan angka 17% pasien-pasien yang berobat ke dokter adalah pasien dengan depresi; dan selanjutnya diperkirakan prevalensi depresi pada populasi masyarakat dunia adalah 3%. Angka-angka ini semakin bertambah untuk masa-masa mendatang yang disebabkan karena beberapa hal (Hawari, 2002), antara lain: (1) usia harapan hidup semakin bertambah; (2) stresor biopsikososial semakin berat; (3) berbagai penyakit kronik semakin bertambah; dan (4) kehidupan beragama semakin ditinggalkan.
Pengamatan dari waktu ke waktu kasus-kasus gangguan kejiwaan yang tergolong kecemasan dan depresi semakin bertambah. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan jumlah kunjungan pasien yang berobat di pusat-pusat pelayanan kesehatan jiwa dan juga yang berobat ke dokter/psikiater. Kenaikan jumlah pasien dengan kecemasan dan/atau depresi dapat juga dilihat dari kenaikan obat-obat psikofarmaka (obat anti cemas dan anti depresi) yang diresepkan oleh para dokter (Hawari, 2002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar