Jumat, 25 Maret 2011

Depresi & Penyakit Jantung

Suatu penelitian terhadap 5.007 wanita dan 2.889 pria menemukan bahwa wanita yang depresi memiliki risiko terkena penyakit jantung 73% lebih besar ketimbang wanita yang tidak depresi – dan bahwa pria yang depresi berpeluang 71% lebih besar terkena penyakit jantung ketimbang pria yang tidak depresi. Kendati risiko meninggal akibat penyakit jantung terhadap wanita yang depresi tidak meningkat, pria yang depresi memiliki peluang 2,3 kali lebih besar untuk meninggal akibat penyakit ini ketimbang pria yang tidak depresi. Penelitian lain menunjukkan bahwa depresi yang bekepanjangan adalah predikotor kuat bagi terjadinya serangan jantung untuk kedua kali.

Depresi dan penyakit jantung memiliki hubungan timbal balik. Depresi bukan meningkatkan, tetapi juga merupakan hasil dari serangan jantung. Bagi sepertiga orang , depresi itu mengikuti suatu serangan jantung. Terlepas dari Anda mengalami serangan jantung atau tidak, jika Anda merasa depresi, segera beritahu dokter Anda. Depresi dapat diobati dengan antidepresan, terapi psikososial, atau keduanya. Menangani depresi dapat membuat Anda merasa lebih baik, dan sejumlah penelitian sedang dilakukan untuk melihat apakah pengobatan yang efektif terhadap depresi mampu mencegah atau memperbaiki masalah jantung atau memperpanjang usia.

Suatu penelitian dari Kanada menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat melemahkan hubungan antara depresi dan risiko kematian pasca-serangan jantung. Tampaknya, ikatan sosial mengurangi risiko kematian dengan membantu meredakan depresi. Namun, manfaat lainnya bisa saja murni bersifat praktis: Orang yang menerima dukungan sosial yang kuat akan memiliki banyak teman dan kerabat untuk member mereka semangat untuk berobat, berolahraga, dan menurunkan berat badan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar